Follow
Follow

Design System untuk Tim Kecil? Menurut Saya, Kebanyakan Malah Bikin Ribet.

Obsesi tim desain, terutama yang ukurannya masih kecil, sama ‘design system’ itu kadang bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan karna design system-nya jelek, tapi karna cara mereka adopsi.
design system untuk tim kecil

Obsesi tim desain, terutama yang ukurannya masih kecil, sama ‘design system’ itu kadang bikin saya geleng-geleng kepala.

Bukan karna design system-nya jelek, tapi karna cara mereka adopsi.

Mereka biasanya langsung lari ke definisi textbook, trus berusaha bikin dokumentasi super lengkap kayak startup unicorn, padahal timnya cuma dua desainer dan satu developer.

Hasilnya? Malah buang-buang waktu dan energi, yang harusnya bisa dipakai buat bikin produk atau ngurusin klien.

Kenapa Pendekatan ‘Design System Lengkap’ Sering Salah Buat Tim Kecil

Tim dengan 2-3 orang, misalnya, kadang ngotot bikin design system yang punya puluhan komponen, dokumentasi mendetail, lengkap dengan panduan voice and tone, dan segala macamnya. Padahal, kebutuhan mereka belum sampai sana.

Masalahnya, begitu kamu mulai bikin design system yang terlalu ambisius, kamu otomatis menciptakan beban kerja tambahan yang gak sebanding dengan manfaatnya.

Kamu jadi sibuk ngurusin:

  • Maintenance komponen: Tiap ada perubahan kecil, harus update di mana-mana.
  • Dokumentasi: Nulis panduan yang gak akan banyak dibaca, apalagi kalau timnya udah ngobrol tiap hari.
  • Version control: Ngurusin kapan komponen A berubah, kapan B dipakai di mana.

Ini semua bagus kalau tim kamu puluhan orang, banyak desainer, banyak developer, dan proyeknya kompleks dengan banyak touchpoint.

Tapi kalau tim kamu kecil, energi yang terbuang buat hal-hal ini bisa dipakai buat hal yang lebih mendesak, misal optimasi website atau bikin konten baru.

Design system itu seharusnya alat yang membantu, bukan tujuan.

Kalau malah jadi penghambat atau bikin pusing, berarti ada yang salah sama cara kamu memandangnya.

Yang Saya Lakukan Buat Tim Kecil: Fokus ke ‘Design Asset Library’ yang Praktis

Jadi, bukan berarti tim kecil gak butuh konsistensi. Butuh banget!

Tapi pendekatan ‘design system’ harus disesuaikan.

Saya pribadi lebih suka menyebutnya ‘design asset library’ atau ‘component library’ yang praktis.

Apa bedanya?

  • Fokus ke elemen inti: Cukup warna, tipografi, spacing, dan komponen UI dasar (tombol, input field, card).
  • Pakai tool yang udah ada: Figma atau Adobe XD itu udah lebih dari cukup. Manfaatkan fitur ‘component’ atau ‘symbol’ di sana.
  • Dokumentasi minimalis: Gak perlu bikin Notion page yang panjang. Cukup kasih nama yang jelas ke tiap komponen di Figma, dan kalau perlu, sedikit catatan penting di sampingnya.

Contoh konkretnya gini: Misal kamu tim berdua, desainer dan developer, bikin landing page untuk kampanye advertising.

Daripada bikin design system lengkap, saya cuma akan siapkan satu file Figma yang isinya:

  1. Color Styles: Warna primer, sekunder, accent, teks, background. Dinamai jelas (misal: Primary/Blue, Text/Dark).
  2. Text Styles: Untuk H1, H2, paragraph, button text.
  3. Components: Tombol (primary, secondary, disabled), input field, checkbox, radio button. Masing-masing punya varian.
  4. Icon Set: Semua ikon yang dipakai di proyek, dalam satu frame.

Ini semua diatur biar gampang diakses dan dipakai ulang.

Kalau ada perubahan warna primer, tinggal ubah di ‘Color Styles’ dan semua komponen yang pakai warna itu otomatis ikut berubah.

Ini jauh lebih cepat dan efisien daripada harus update di banyak tempat manual, dan gak ada beban dokumentasi yang berat.

Intinya, design system itu butuh adaptasi.

Kalau kamu tim kecil, fokuslah pada konsistensi yang bisa kamu maintain tanpa mengorbankan kecepatan dan efisiensi.

Jangan sampai kamu sibuk bikin ‘rumah’ yang megah, tapi lupa kalau ada ‘tamu’ yang nunggu di luar.

Komentar
Bagikan pendapat Anda
Kirim Komentar

Leave a Reply

Website Sepi Penjualan?

Audit GRATIS, temukan masalah & solusi optimasi dalam 5 menit.
Laporan lengkap langsung ke email Anda!

Gratis Audit Website