Pernah ada klien saya yang sebenarnya sudah punya website WordPress cukup rapi, tapi setiap kali mau upload artikel baru, dia tetap kirim file Word ke tim admin. Bukan karena malas belajar. Masalahnya, dashboard WordPress terlihat sederhana, tapi begitu masuk editor, ada title, block, category, tag, featured image, excerpt, permalink, preview, publish, dan beberapa setting lain yang bikin orang baru gampang ragu.
Saya ngerti banget. Membuat post baru di WordPress kelihatannya cuma klik Add New Post, tulis artikel, lalu publish. Tapi kalo tujuannya bukan sekadar posting, melainkan membuat artikel yang enak dibaca, gampang dirapikan, dan punya peluang masuk Google, prosesnya perlu sedikit lebih tertib.
Jadi di artikel ini saya mau jelaskan cara membuat post baru di WordPress dengan alur yang lebih kepake. Bukan cuma tombol mana yang harus diklik, tapi juga bagian mana yang perlu dicek sebelum artikel anda benar-benar diterbitkan.
Kenapa?
Karena post WordPress itu bukan cuma wadah tulisan. Dia bisa jadi pintu masuk pembaca dari Google, social media, newsletter, WhatsApp, bahkan AI search. Kalo dari awal strukturnya berantakan, nanti anda sendiri yang repot membenahinya.
Sebelum Membuat Post Baru, Siapkan Dulu Bahan Artikelnya
Sebelum masuk dashboard, saran saya jangan mulai dari halaman kosong. Siapkan dulu bahan dasarnya. Minimal anda sudah punya topik, judul sementara, poin utama, gambar pendukung, dan tujuan artikel tersebut.
Banyak orang langsung login ke WordPress, lalu menulis sambil mikir. Boleh saja, tapi biasanya hasilnya lebih gampang melebar. Mirip orang masuk dapur tanpa tahu mau masak apa. Bahan ada, kompor ada, alat lengkap, tapi akhirnya bingung sendiri di tengah jalan, hehe.
Tips: sebelum klik Add New Post, tulis dulu 5 poin utama artikel di notes. Ini membantu anda menjaga artikel tetap fokus dan tidak berubah jadi kumpulan paragraf acak.
Untuk artikel website bisnis, biasanya saya menyiapkan hal seperti ini:
- Target pembaca utama artikel
- Masalah yang ingin dijawab
- Keyword atau topik inti
- Gambar utama yang relevan
- Call to action ringan, kalo memang dibutuhkan
- Link internal yang nyambung dengan isi artikel
Saya pribadi menggunakan draft di editor biasa dulu untuk artikel yang panjang. Setelah flow-nya enak, baru saya pindahkan ke WordPress. Ini bukan aturan wajib, tapi buat saya lebih aman daripada menulis panjang langsung di dashboard lalu kepencet refresh atau salah block.
Masuk ke Dashboard WordPress dan Pilih Add New Post
Setelah bahan siap, masuk ke dashboard WordPress anda. Biasanya alamat login ada di format domainanda.com/wp-admin. Setelah berhasil login, lihat menu kiri, lalu pilih Posts dan klik Add New.
Di beberapa website yang memakai bahasa Indonesia, menu ini bisa tertulis sebagai Pos lalu Tambah Baru. Intinya sama saja. Anda akan masuk ke editor post baru.
Sampai sini kebayang kan ya?
WordPress sekarang memakai editor block atau Gutenberg. Jadi isi artikel tidak lagi dianggap sebagai satu kotak teks panjang seperti Microsoft Word. Setiap paragraf, heading, gambar, list, quote, dan tabel bisa menjadi block sendiri. Awalnya mungkin terasa ribet, tapi justru ini membuat artikel lebih mudah dirapikan.
Anggap saja block ini seperti susunan lego. Paragraf satu lego, gambar satu lego, heading satu lego. Kalo ada bagian yang salah tempat, anda tinggal geser atau hapus block itu, bukan membongkar seluruh tulisan.
Isi Judul Post dengan Jelas, Bukan Cuma Menarik
Bagian pertama yang perlu diisi adalah judul. Ini penting karena judul biasanya akan menjadi H1 artikel, muncul di halaman blog, dan sering dipakai sebagai dasar permalink.
Judul yang bagus bukan cuma menarik, tapi juga jelas. Pembaca harus cepat paham isi artikel anda tentang apa. Untuk artikel tutorial, judul yang terlalu kreatif kadang malah bikin bingung.
Contoh sederhana:
- Kurang jelas: Mulai Menulis di Website Anda
- Lebih jelas: Cara Membuat Post Baru di WordPress untuk Pemula
Mana yang lebih cepat dipahami? Yang kedua. Tidak terlalu manis, tapi jelas. Untuk SEO, kejelasan sering lebih berguna daripada gaya bahasa yang terlalu dipoles.
Tips: tulis judul yang bisa dibaca keras-keras tanpa terasa aneh. Kalo judulnya terdengar seperti headline buatan mesin, biasanya perlu disederhanakan lagi.
Tulis Artikel dengan Struktur Heading yang Rapi
Setelah judul, masuk ke area konten. Anda bisa langsung mengetik paragraf pertama. Untuk membuat bagian baru, tekan Enter lalu pilih block yang dibutuhkan. Kalo ingin membuat subjudul, gunakan heading.
Yang sering keliru adalah penggunaan heading. Banyak pemula memakai heading hanya karena ukuran font-nya besar. Padahal heading adalah struktur. H2 untuk bagian utama, H3 untuk subbagian di dalam H2, dan seterusnya.
Jujur, ini hal kecil yang efeknya lumayan besar. Pembaca lebih mudah mengikuti isi artikel. Google juga lebih mudah memahami susunan topik. Dan anda sendiri lebih gampang mengedit artikel itu nanti.
Bagaimana?
Bayangkan artikel seperti rak toko. Kalo semua barang ditumpuk tanpa label, pembeli mungkin tetap bisa mencari, tapi capek duluan. Heading itu label raknya. Makin jelas labelnya, makin mudah orang menemukan bagian yang mereka butuhkan.
Untuk artikel tutorial, struktur sederhana seperti ini sudah cukup:
- Pembuka yang menjelaskan masalah
- Persiapan sebelum mulai
- Langkah utama membuat post
- Pengaturan penting sebelum publish
- Checklist akhir
- FAQ
Tambahkan Gambar atau Media dengan Cara yang Benar
Untuk menambahkan gambar, klik tombol plus, pilih Image, lalu upload gambar dari komputer atau pilih dari Media Library. Setelah gambar masuk, jangan langsung lanjut menulis. Isi juga alt text kalo gambar tersebut punya fungsi menjelaskan isi artikel.
Alt text bukan tempat menjejalkan keyword. Alt text membantu menjelaskan isi gambar, terutama untuk aksesibilitas dan konteks. Misalnya gambar dashboard editor WordPress, alt text yang masuk akal adalah tampilan editor post baru di WordPress, bukan deretan keyword panjang.
Ukuran gambar juga perlu diperhatikan. Jangan upload foto 5000px langsung ke artikel kalo yang dibutuhkan hanya gambar ilustrasi biasa. File terlalu besar bisa membuat halaman lambat.
Tips: untuk featured image, gunakan gambar rasio 16:9, kompres ke WebP, beri nama file yang natural, dan hapus metadata yang tidak perlu. Misalnya cara-membuat-post-wordpress.webp.
Atur Category, Tag, Featured Image, dan Permalink
Sebelum publish, lihat panel pengaturan post di sebelah kanan. Di sinilah anda mengatur detail penting seperti category, tag, featured image, excerpt, dan permalink.
Category berguna untuk mengelompokkan artikel. Jangan biarkan artikel masuk Uncategorized. Kalo website anda membahas marketing, website, dan bisnis, pilih category yang paling dekat dengan topik artikel.
Tag boleh dipakai, tapi jangan berlebihan. Saya sering lihat website punya puluhan tag yang mirip-mirip, akhirnya malah berantakan. Tag sebaiknya membantu pengelompokan kecil, bukan jadi tempat menaruh semua variasi keyword.
Featured image adalah gambar utama yang biasanya muncul di halaman blog, social share, dan beberapa template website. Pilih gambar yang nyambung dengan isi artikel. Jangan asal pakai gambar laptop di meja hanya karena terlihat rapi.
Permalink juga perlu dicek. Buat URL yang pendek dan jelas. Misalnya untuk artikel ini, permalink seperti /cara-membuat-post-baru-di-wordpress/ sudah cukup. Tidak perlu memasukkan semua kata dari judul.
Checklist Sebelum Klik Publish
Saya mesti jujur, tombol Publish itu menggoda. Begitu artikel selesai, rasanya ingin langsung diterbitkan. Tapi biasakan preview dulu. Banyak typo, gambar pecah, heading dobel, atau link salah baru kelihatan setelah preview dibuka.
Ini checklist sederhana yang bisa anda pakai sebelum publish:
Kalo semuanya sudah aman, baru klik Publish. WordPress biasanya akan meminta konfirmasi sekali lagi. Setelah publish, buka artikel di tab baru dan cek tampilan akhirnya.
Aga ribet?
Awalnya iya. Tapi setelah dilakukan beberapa kali, proses ini jadi kebiasaan. Sama seperti kasir yang sebelum toko buka mengecek laci uang, struk, QRIS, dan display produk. Kelihatannya detail kecil, tapi mencegah masalah yang lebih besar nanti.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Post WordPress
Selain langkah teknis, ada beberapa kesalahan yang sering saya lihat di website baru. Pertama, artikel dipublish tanpa struktur heading. Kedua, gambar terlalu besar. Ketiga, category dibiarkan default. Keempat, permalink terlalu panjang. Kelima, artikel hanya copy paste dari dokumen tanpa dirapikan lagi di editor.
Copy paste dari Google Docs atau Microsoft Word boleh saja, tapi cek lagi hasilnya. Kadang ada format aneh yang ikut terbawa. Spasi jadi tidak konsisten, list berubah, atau heading terlihat besar tapi sebenarnya bukan heading block.
Tips: setelah paste artikel ke WordPress, klik beberapa bagian penting dan pastikan block-nya benar. Paragraf tetap paragraph, subjudul jadi heading, list jadi list, bukan cuma teks biasa yang terlihat seperti list.
FAQ
Apakah post dan page di WordPress itu sama?
Tidak sama. Post biasanya dipakai untuk artikel blog, update, atau konten berkala. Page lebih cocok untuk halaman statis seperti About, Contact, Service, atau Landing Page.
Apakah artikel harus langsung dipublish setelah selesai ditulis?
Tidak harus. Anda bisa menyimpannya sebagai draft, menjadwalkan publish, atau meminta orang lain review dulu. Untuk website bisnis, saya lebih suka preview dan cek ulang sebelum artikel naik.
Berapa banyak category yang sebaiknya dipilih?
Idealnya satu category utama saja, kecuali artikel memang benar-benar relevan ke dua kategori. Terlalu banyak category bisa membuat struktur blog terlihat kurang rapi.
Apakah tag masih penting untuk SEO?
Tag bisa membantu navigasi internal, tapi jangan dianggap sebagai trik SEO. Kalo tag dibuat terlalu banyak dan mirip-mirip, hasilnya malah bisa membuat arsip website berantakan.
Apa yang paling penting dicek sebelum publish?
Cek judul, struktur heading, gambar, category, permalink, dan preview. Kalo enam bagian ini aman, biasanya artikel sudah cukup rapi untuk diterbitkan.
Membuat post baru di WordPress sebenarnya tidak sulit. Yang sering bikin hasilnya kurang bagus adalah prosesnya terlalu buru-buru. Rapikan dari awal, cek sebelum publish, dan perlakukan setiap artikel sebagai aset kecil yang bisa bekerja lama untuk website anda.
Update terakhir: Mei 2026.