Banyak orang mulai SEO dari keyword yang volumenya besar. Kelihatannya logis, karna makin banyak dicari harusnya makin banyak traffic.
Masalahnya, untuk website bisnis, keyword besar belum tentu menghasilkan. Kadang yang dicari 200 kali sebulan justru lebih dekat ke pembelian dibanding keyword 20.000 pencarian yang isinya cuma orang iseng baca-baca.
Ini salah satu alasan kenapa banyak artikel lama soal keyword research sekarang kerasa kurang kepake. Contohnya masih terlalu umum, tools disebut tanpa konteks, trus ujungnya cuma “pilih keyword volume tinggi dan kompetisi rendah”.
Hehe.. kalo semudah itu, semua website bisnis sudah rame dari Google.
Menurut saya, cara riset kata kunci yang benar itu bukan mencari kata yang paling ramai, tapi mencari kata yang paling masuk akal untuk bisnis anda. Masuk akal dari sisi intent, kemampuan website, kualitas konten, dan peluang ranking.
Apalagi sekarang Google makin pinter membaca konteks. AI search juga mulai mengubah cara orang mencari informasi. Tapi bukan berarti keyword research mati. Justru makin penting, karna kita perlu tau bahasa yang dipakai market, bukan cuma bahasa yang dipakai internal bisnis.
Saya pribadi menggunakan keyword research bukan hanya untuk SEO, tapi juga untuk membaca demand. Kadang dari keyword kita bisa tau orang lagi takut apa, bingung dimana, dan sebelum membeli biasanya mereka nanya apa dulu.
Sampai sini ke gambar kan ya?
Riset keyword itu bukan sekedar cari volume
Kesalahan paling umum dalam riset keyword adalah memperlakukan semua pencarian sebagai traffic yang sama.
Padahal beda banget orang yang mencari “apa itu landing page” dengan orang yang mencari “jasa landing page untuk produk skincare”. Yang pertama mungkin baru belajar. Yang kedua bisa jadi sudah punya produk, sudah ada budget, dan tinggal cari vendor yang cocok.
Dua-duanya penting, tapi perannya beda.
Kalo anda pemilik bisnis, marketer, atau freelancer, jangan terlalu cepat tergoda keyword besar. Keyword besar biasanya kompetisinya juga besar, intent-nya campur aduk, dan butuh authority website yang lebih kuat.
Keyword kecil yang tepat sering lebih profitable dibanding keyword besar yang terlalu jauh dari keputusan beli.
Ini mirip buka toko di pinggir jalan. Jalan besar memang ramai, tapi kalo orang cuma numpang lewat dan gak butuh produk anda, biaya sewanya bisa bikin nyungseb. Kadang lokasi yang lebih kecil tapi dekat dengan orang yang memang butuh justru lebih sehat untuk bisnis.
Kenapa?
Karna SEO bukan cuma soal ranking. SEO itu soal ketemu dengan orang yang tepat, di momen yang tepat, dengan jawaban yang tepat.
Kalo anda masih baru memahami dasar SEO, anda bisa baca dulu panduan saya tentang apa itu SEO dan cara optimasi website. Artikel ini akan lebih fokus ke keyword research-nya.
Mulai dari bisnisnya dulu, bukan dari tools
Sebelum buka Ahrefs, Semrush, Ubersuggest, atau Keyword Planner, saya biasanya mulai dari pertanyaan bisnis.
- Produk atau jasa utama yang mau dijual apa?
- Margin paling sehat datang dari produk yang mana?
- Customer biasanya nanya apa sebelum membeli?
- Apa masalah yang bikin mereka akhirnya cari solusi di Google?
- Wilayah targetnya nasional, lokal, atau niche tertentu?
Ini penting karna tools cuma ngasih data pencarian. Tools gak tau mana produk anda yang paling profitable, mana layanan yang operasionalnya berat, dan mana customer yang sebenarnya gak cocok untuk anda.
Saya mesti jujur, banyak orang riset keyword terlalu teknis tapi lupa realitas bisnisnya. Akhirnya kontennya ranking untuk topik yang ramai, tapi sales team tetap sepi. Atau traffic naik, tapi yang masuk bukan target market.
Pernah ada klien saya, websitenya punya beberapa artikel edukasi yang lumayan bagus, tapi inquiry yang masuk banyak dari orang yang belum sanggup bayar. Setelah keyword-nya kita rapikan ke arah problem yang lebih dekat ke keputusan beli, lead yang masuk lebih sedikit, tapi lebih enak difollow up.
Itu contoh simpel bahwa traffic bukan satu-satunya ukuran.
Untuk website bisnis, keyword research harus nyambung ke revenue path, bukan cuma search volume.
Tips: sebelum cari keyword di tools, tulis dulu 10 pertanyaan yang paling sering ditanyakan calon customer. Biasanya dari situ muncul keyword yang lebih natural dan lebih dekat ke transaksi.
Pahami jenis intent keyword
Intent itu maksud orang ketika mengetik keyword. Ini fondasi paling penting dalam cara riset kata kunci.
Secara sederhana, intent bisa dibagi jadi beberapa jenis.
| Jenis intent | Contoh keyword | Peran untuk bisnis |
|---|---|---|
| Informational | cara membuat website company profile | Mengedukasi calon pembeli |
| Commercial investigation | jasa pembuatan website terbaik | Membantu orang membandingkan opsi |
| Transactional | jasa pembuatan website jakarta | Dekat ke pembelian |
| Navigational | login google ads | Biasanya mencari brand atau halaman tertentu |
Keyword informational biasanya cocok untuk artikel blog, panduan, checklist, atau FAQ. Keyword commercial bisa dipakai untuk artikel perbandingan, list solusi, studi kasus, atau halaman service yang lebih lengkap. Keyword transactional biasanya cocok untuk landing page atau halaman layanan.
Masalahnya, banyak website mencampur semuanya dalam satu halaman.
Misalnya halaman jasa SEO diisi dengan definisi panjang “SEO adalah…” selama 1.500 kata, padahal orang yang masuk ke halaman jasa mungkin sudah tau SEO secara umum dan butuh bukti, proses kerja, deliverables, pricing range, atau contoh masalah yang bisa dibantu.
Sebaliknya, artikel edukasi kadang terlalu hard sell padahal pembaca masih tahap belajar. Jadi terasa maksa.
Bagaimana?
Cek hasil Google untuk keyword tersebut. Kalo halaman pertama didominasi artikel blog, berarti Google membaca intent-nya sebagai edukasi. Kalo isinya halaman layanan, marketplace, atau listing vendor, berarti intent-nya lebih dekat ke transaksi.
Jangan melawan intent terlalu jauh. Bisa saja, tapi biasanya lebih berat.
Gunakan Google sebagai alat riset paling awal
Sebelum masuk tools berbayar, Google sendiri sudah ngasih banyak clue.
- Google autocomplete
- People also ask
- Related searches
- Judul halaman yang ranking
- Format konten di halaman 1
Ketik keyword utama anda, lalu perhatikan saran yang muncul. Misalnya anda menjual jasa pembuatan website. Jangan cuma berhenti di “jasa website”. Coba variasi seperti:
- jasa pembuatan website company profile
- jasa website untuk UMKM
- biaya pembuatan website bisnis
- contoh website company profile
- website untuk bisnis lokal
Dari sini anda mulai dapat pola bahasa market. Kadang calon customer gak mencari istilah teknis yang kita pakai. Kita bilang “conversion focused landing page”, mereka cari “website jualan yang bisa masuk whatsapp”.
Ini sering kejadian.
Saya pribadi menggunakan Google autocomplete hampir di semua riset awal, bahkan kalo nanti tetap lanjut pakai Ahrefs atau Semrush. Alasannya simpel, autocomplete memperlihatkan bahasa nyata yang sering dipakai orang, bukan cuma angka di dashboard.
Kalo website lama anda punya artikel yang sudah tidak mendatangkan kunjungan, itu sinyal bahwa kontennya perlu dicek ulang. Bisa jadi keyword-nya gak punya demand lagi, intent sudah berubah, atau kontennya kalah lengkap dibanding halaman baru yang lebih relevan.
Jangan langsung hapus. Audit dulu.
Tips: buka hasil Google dalam mode incognito, lalu catat 10 halaman teratas. Lihat apakah mereka artikel, halaman produk, kategori, forum, video, atau FAQ. Dari situ anda bisa tau jenis konten yang perlu dibuat.
Pakai tools, tapi jangan keukeuh sama angkanya
Tools keyword research tetap berguna. Saya gak anti tools. Justru kalo dipakai benar, tools bisa menghemat banyak waktu.
Beberapa tools yang bisa anda pakai:
- Google Ads Keyword Planner
- Google Search Console, kalo website sudah punya data
- Ahrefs
- Semrush
- Ubersuggest
- Google Trends untuk melihat arah minat
Saya pribadi menggunakan kombinasi beberapa tools, tergantung kebutuhan dan budget project. Untuk riset cepat, Google autocomplete dan Keyword Planner sering cukup. Untuk melihat kompetitor dan gap konten, Ahrefs atau Semrush lebih enak. Tapi saya gak menganggap angka dari satu tools sebagai kebenaran mutlak.
Volume pencarian itu estimasi. Keyword difficulty juga estimasi. Bahkan dua tools bisa menampilkan angka yang beda untuk keyword yang sama.
Jadi jangan ambil keputusan hanya karena satu angka terlihat menarik.
Menurut saya, tools sebaiknya dipakai untuk menjawab 4 hal:
- Keyword apa saja yang relevan dengan bisnis?
- Berapa kira-kira demand-nya?
- Siapa yang sekarang ranking?
- Seberapa realistis website kita bersaing?
Kalo website anda masih baru, jangan langsung incar keyword yang dikuasai media besar, marketplace, atau brand raksasa. Bukan gak mungkin, tapi jalannya lebih panjang.
Mulai dari long tail keyword. Keyword yang lebih spesifik, volume lebih kecil, tapi intent lebih jelas.
Contoh:
- “digital marketing” terlalu luas
- “strategi digital marketing untuk klinik kecantikan” lebih jelas
- “SEO” terlalu berat
- “cara optimasi SEO untuk website jasa” lebih masuk akal
Long tail keyword itu bukan keyword receh. Untuk website bisnis, sering kali ini pintu masuk paling sehat.
Kelompokkan keyword berdasarkan funnel
Setelah punya list keyword, jangan langsung bikin artikel satu per satu. Kelompokkan dulu berdasarkan funnel.
Secara praktis, saya biasanya membagi jadi 3:
- Top funnel: orang baru sadar masalah
- Middle funnel: orang mulai membandingkan solusi
- Bottom funnel: orang sudah siap cari vendor, harga, atau layanan
Contoh untuk bisnis jasa pembuatan website:
- Top funnel: “kenapa bisnis perlu website”
- Middle funnel: “website vs landing page untuk jualan”
- Bottom funnel: “jasa pembuatan website company profile”
Semua punya peran. Tapi prioritasnya tergantung kondisi bisnis.
Kalo butuh lead lebih cepat, mulai dari bottom funnel dan middle funnel. Kalo ingin membangun authority jangka panjang, top funnel juga penting.
Jujur, banyak website terlalu banyak bikin artikel top funnel karna terlihat gampang. Artikel seperti “apa itu…” memang enak ditulis, tapi belum tentu dekat dengan uang. Bukan berarti jelek, cuma jangan semua konten diarahkan ke sana.
· · · · ·
Tapi harus mulai dari mana?
Mulai dari keyword yang punya kombinasi ini:
- Relevan langsung dengan produk atau jasa
- Intent jelas
- Kompetisi masih masuk akal
- Bisa dijawab dengan pengalaman atau insight nyata
- Bisa diarahkan ke halaman penting di website
Poin terakhir ini sering dilupakan. Artikel blog harus punya hubungan dengan halaman bisnis anda. Misalnya artikel tentang “biaya pembuatan website” bisa internal link ke halaman jasa pembuatan website. Artikel tentang “FAQ SEO” bisa mendukung artikel seperti pembahasan FAQ untuk SEO.
Cek kompetitor dengan cara yang realistis
Kompetitor SEO bukan selalu kompetitor bisnis.
Misalnya anda punya jasa konsultasi bisnis. Kompetitor bisnis anda mungkin konsultan lain. Tapi di Google, anda bisa bersaing dengan media, kampus, marketplace jasa, forum, atau blog pribadi.
Jadi ketika riset keyword, lihat siapa yang ranking di halaman 1.
- Apakah domain mereka sangat kuat?
- Apakah kontennya panjang tapi dangkal?
- Apakah ada forum seperti Reddit, Quora, Kaskus, atau komunitas?
- Apakah hasilnya banyak video?
- Apakah halaman yang ranking sudah menjawab intent dengan baik?
Kalo halaman 1 dipenuhi konten yang kualitasnya biasa saja, itu peluang. Kalo dipenuhi brand besar dengan konten lengkap dan backlink kuat, anda tetap bisa masuk, tapi butuh angle berbeda atau keyword yang lebih spesifik.
Aga teknis sih, tapi ini penting.
Jangan cuma tanya “keyword ini dicari berapa kali?”. Tanya juga “siapa yang harus saya kalahkan?”.
Google sering berubah. Update algoritma bisa menggeser halaman yang tadinya stabil. Kalo anda ingin memahami efeknya, saya pernah bahas juga tentang dampak update Google ke SEO.
Tips: kalo anda menemukan keyword dengan volume sedang, intent jelas, dan halaman 1 masih diisi konten generik, masukkan ke prioritas tinggi. Itu biasanya lebih realistis dibanding mengejar keyword besar yang dijaga website authority tinggi.
Buat keyword map biar konten gak tabrakan
Setelah list keyword siap, langkah berikutnya adalah keyword mapping.
Keyword mapping itu proses menentukan keyword mana masuk ke halaman mana. Ini penting biar satu website gak punya banyak halaman yang saling rebutan keyword yang sama.
Misalnya anda punya 5 artikel dengan topik mirip:
- cara riset keyword
- cara mencari keyword
- cara menentukan kata kunci
- keyword research untuk pemula
- riset kata kunci SEO
Bisa jadi semua itu sebaiknya digabung jadi satu artikel besar yang lebih kuat, bukan dipisah jadi 5 artikel tipis. Kecuali masing-masing punya intent yang benar-benar beda.
Ini sering saya temukan di website lama. Artikelnya banyak, tapi tipis dan saling tumpang tindih. Akhirnya Google bingung halaman mana yang paling penting.
Untuk keyword mapping, anda bisa pakai spreadsheet sederhana dengan kolom:
- Keyword utama
- Keyword pendukung
- Intent
- Jenis halaman
- Prioritas
- Status konten
- Internal link target
Gak perlu ribet dulu. Yang penting jelas.
Satu keyword utama sebaiknya punya satu halaman utama yang paling layak ranking. Keyword pendukung bisa masuk sebagai subtopik, FAQ, atau section tambahan.
Prioritaskan keyword dengan scoring sederhana
Kalo semua keyword terlihat penting, biasanya tidak ada yang benar-benar dikerjakan.
Makanya saya suka pakai scoring sederhana. Gak perlu ilmiah banget, yang penting membantu ambil keputusan.
Beri nilai 1 sampai 5 untuk:
- Relevansi ke bisnis
- Kedekatan dengan transaksi
- Potensi traffic
- Tingkat kompetisi
- Kemampuan anda membuat konten yang lebih baik
Untuk kompetisi, nilainya bisa dibalik. Makin mudah, makin tinggi. Jadi keyword yang relevan, dekat ke transaksi, punya demand, dan masih realistis, akan naik ke prioritas atas.
Contoh, keyword “jasa digital marketing” mungkin volume besar, tapi kompetisinya berat dan intent-nya luas. Sementara “jasa digital marketing untuk klinik kecantikan” mungkin volume lebih kecil, tapi lebih jelas, lebih niche, dan kontennya bisa dibuat lebih spesifik.
Mana yang lebih baik?
Tergantung bisnis anda. Tapi untuk website yang belum terlalu kuat, saya akan lebih tertarik dengan keyword niche yang bisa dimenangkan lebih cepat dan lebih relevan.
Ini bukan berarti keyword besar diabaikan. Keyword besar bisa jadi target jangka panjang. Tapi jangan jadikan itu satu-satunya strategi.
Riset keyword juga harus melihat SERP feature
Di 2026, hasil Google bukan cuma 10 link biru. Ada featured snippet, video, local pack, image, shopping, People also ask, dan berbagai tampilan lain.
Ini mempengaruhi strategi konten.
Kalo keyword memunculkan local pack, berarti lokasi penting. Kalo banyak video, mungkin orang lebih suka penjelasan visual. Kalo banyak FAQ, berarti format tanya jawab bisa membantu. Kalo muncul featured snippet, struktur jawaban harus lebih rapi.
Bukan berarti anda harus mengejar semua SERP feature. Tapi anda harus tau medan mainnya.
Analoginya seperti ikut pemilu. Anda gak cukup tau jumlah pemilih, anda juga harus tau siapa lawannya, daerah mana yang kuat, dan pesan apa yang nyambung ke pemilih. Keyword research juga begitu.
Content is King 👑, tapi konten yang salah format tetap bisa kalah.
Kalo SERP menunjukkan artikel listicle, jangan maksa bikin halaman sales murni. Kalo SERP menunjukkan halaman layanan, jangan berharap artikel definisi bisa langsung menang.
Gunakan keyword untuk membuat outline, bukan menjejalkan kata
Keyword stuffing sudah lama gak masuk akal. Menulis “cara riset kata kunci” puluhan kali dalam artikel justru bikin konten terasa aneh.
Gunakan keyword untuk membuat struktur.
- Keyword utama jadi fokus halaman
- Keyword turunan jadi subheading
- Pertanyaan user jadi FAQ
- Commercial keyword jadi jembatan ke halaman layanan
- Related term dipakai natural di dalam paragraf
Misalnya anda menargetkan “cara riset kata kunci”, subtopiknya bisa mencakup tools riset keyword, search intent, long tail keyword, keyword mapping, dan cara memilih prioritas keyword.
Dengan begitu konten lebih lengkap tanpa terasa dipaksakan.
Saya pribadi lebih suka menulis outline setelah melihat SERP dan data tools, bukan sebelum. Karna kalo outline dibuat terlalu awal, sering kali kita cuma menulis berdasarkan asumsi sendiri.
Dan asumsi marketer kadang beda jauh dengan cara customer mencari, hehe.
FAQ
Apakah keyword volume kecil layak ditargetkan?
Layak, kalo intent-nya jelas dan relevan dengan bisnis. Untuk website bisnis, keyword volume kecil bisa menghasilkan lead yang lebih baik dibanding keyword besar tapi terlalu umum.
Apakah harus pakai tools berbayar untuk riset keyword?
Gak harus. Anda bisa mulai dari Google autocomplete, People also ask, related searches, Google Trends, dan Keyword Planner. Tools berbayar membantu mempercepat analisa, tapi bukan syarat mutlak.
Berapa banyak keyword untuk satu artikel?
Fokus pada satu keyword utama, lalu dukung dengan beberapa keyword turunan yang masih satu intent. Jangan memaksa banyak keyword berbeda dalam satu artikel kalo maksud pencariannya tidak sama.
Apakah keyword research masih relevan dengan adanya AI search?
Masih. Cara orang mencari bisa berubah, tapi kebutuhan untuk memahami bahasa market tetap penting. Keyword research sekarang bukan cuma untuk ranking, tapi juga untuk memahami pertanyaan, masalah, dan konteks calon customer.
Penutup
Cara riset kata kunci yang masih relevan sekarang bukan sekedar kumpulkan keyword, pilih volume besar, lalu tulis artikel panjang.
Mulai dari bisnisnya. Pahami intent. Lihat SERP. Pakai tools untuk validasi. Kelompokkan keyword berdasarkan funnel. Buat mapping biar halaman tidak saling tabrakan. Lalu pilih prioritas yang paling realistis untuk kondisi website anda.
Kalo anda melakukan itu, keyword research bukan cuma jadi kerjaan SEO, tapi jadi cara membaca market.
Dan menurut saya, itu nilai paling pentingnya.
Update terakhir: April 2026.